kabarnoken.com – Papua — Di tengah tawa anak-anak Papua, 1 Desember tahun ini menghadirkan makna baru. Bukan sekadar tanggal yang sering dikaitkan dengan isu politik, tetapi momentum untuk kembali mengajar, menyalakan harapan, dan meneguhkan masa depan anak-anak Papua di ruang-ruang kelas darurat.
Semangat Belajar Tak Pernah Padam
Meski hanya berbekal buku lusuh dan papan tulis sederhana, semangat belajar anak-anak Papua tidak pernah padam. Bagi mereka, itu adalah “kemewahan” yang paling berharga. Di tengah keterbatasan, suara mereka bersahut-sahutan membaca huruf demi huruf, menembus sunyi konflik, menjadi pengingat bahwa masa depan Papua lahir dari ruang kelas, bukan dari kekacauan.
Negara Hadir untuk Anak Papua
Kepala BPMP Papua, Junus Simangunsong, menegaskan bahwa perhatian kepada anak-anak bukan sekadar soal pendidikan dasar, tetapi juga menjaga agar mereka merasa dilihat, dihargai, dan dicintai oleh negara. Pada momentum 1 Desember ini, guru, relawan, dan aparat pendidikan berdiri bersama, mengibarkan bendera Merah Putih, menyanyikan “Indonesia Raya”, serta membagikan buku-buku baru yang dikirimkan pemerintah.
Pendidikan Sebagai Perlawanan Damai
Ketika konflik merenggut banyak hal, pengajaran menjadi perlawanan paling damai. Di tengah hutan, di ruangan papan, di bangunan darurat, pengabdian guru dan semangat murid menjadi cahaya yang menolak padam. 1 Desember di Papua bukan tentang provokasi, melainkan tentang pendidikan yang menyalakan harapan.
Papua Memilih Mengajar
Momentum ini menegaskan bahwa Papua memilih jalan damai melalui pendidikan. Anak-anak Papua adalah masa depan bangsa, dan ruang kelas adalah medan perjuangan yang sesungguhnya.
Papua kuat karena anak-anaknya belajar. Papua maju karena gurunya mengajar. Papua bersama Indonesia karena pendidikan adalah cahaya yang tak pernah padam.

















