Sorong Raya, Papua Barat Daya — Aksi pembakaran Bendera Merah Putih oleh TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya memicu kecaman luas dan melukai rasa kebangsaan masyarakat Papua. Tindakan tersebut dipandang sebagai provokasi terbuka yang tidak hanya menantang kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi juga mengoyak simbol persatuan yang selama ini menjadi payung hidup bersama warga Papua dalam bingkai NKRI.
Simbol Negara Dijadikan Sasaran
Bendera Merah Putih bukan sekadar kain, melainkan simbol persatuan dan kedaulatan bangsa. Pembakaran bendera dianggap sebagai penghinaan terhadap nilai kebangsaan dan tindakan yang merusak semangat persaudaraan. Bagi masyarakat Papua, Merah Putih adalah payung hidup bersama yang menjamin hak, keamanan, dan masa depan generasi muda.
Kekerasan Dibungkus Narasi Politik
Masyarakat menilai klaim dan ancaman yang disampaikan kelompok bersenjata semakin memperjelas wajah kekerasan yang dibungkus narasi politik. Alih-alih memperjuangkan kesejahteraan rakyat Papua, aksi simbolik yang disertai ancaman eksekusi justru menebar ketakutan, mengganggu ketertiban umum, dan menempatkan warga sipil dalam risiko.
Suara Tokoh Adat, Gereja, dan Pemuda
Banyak tokoh adat, gereja, dan pemuda menegaskan bahwa Papua membutuhkan pembangunan, dialog, dan keamanan, bukan intimidasi bersenjata. Mereka menyerukan agar masyarakat tidak terprovokasi dan tetap menjaga persatuan. Solidaritas warga menjadi bukti bahwa Papua menolak kekerasan dan memilih jalan damai.
Komitmen Pemerintah dan Aparat
Pemerintah dan aparat keamanan diminta bertindak tegas sesuai hukum untuk melindungi masyarakat dan menjaga keutuhan NKRI. Langkah pengamanan di Sorong Raya diperkuat, dengan fokus pada perlindungan warga sipil dan penegakan hukum terhadap pelaku provokasi.
Harapan Papua: Persatuan, Bukan Teror
Warga Papua menyatakan sikap jelas: masa depan Papua dibangun melalui persatuan, bukan pembakaran simbol negara; melalui kerja dan pendidikan, bukan teror. NKRI adalah rumah bersama, dan upaya memecahnya dengan kekerasan hanya akan memperdalam luka, bukan menghadirkan solusi.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak provokasi. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.

















