kabarnoken.com – Dekai, Yahukimo — Malam yang seharusnya sunyi berubah menjadi detik-detik mencekam di Kota Dekai. Pada Kamis dini hari (8/1/2026) sekitar pukul 01.00 WIT, SMP YPPGI Dekai nyaris habis dilalap api. Percobaan pembakaran yang dilakukan TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo menyasar ruang kelas IX, tempat anak-anak Papua belajar menulis mimpi mereka. Api memang padam sebelum menjalar, tetapi jejak teror tertinggal jelas: plafon hangus, bangku-bangku belajar rusak, kaca jendela pecah.
Tangis dan Amarah di Pagi Hari
Pagi harinya, para guru yang datang untuk mengajar mendapati sekolah hampir menjadi abu. Tangis tertahan dan amarah bercampur menjadi satu. “Ini bukan sekadar membakar gedung, ini membakar masa depan,” ujar Kepala Sekolah Ayus Matuan, S.PdK, dengan suara bergetar. Ia menegaskan, menyerang sekolah adalah kejahatan moral yang merampas hak anak-anak Yahukimo atas pendidikan, harapan, dan kehidupan yang lebih baik.
Pendidikan Dijadikan Medan Teror
Warga dan tenaga pendidik mengecam keras aksi tersebut sebagai teror terang-terangan terhadap generasi Papua. Mereka menilai, ketika papan tulis dijadikan sasaran, maka yang diserang bukan negara, melainkan anak-anak yang tak bersenjata. Serangan terhadap sekolah bukan hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga menghancurkan semangat belajar dan menanamkan rasa takut di hati anak-anak.
Seruan Menghentikan Kekerasan
Seruan pun menggema: hentikan kekerasan, lindungi sekolah, dan usut tuntas pelaku. Pendidikan tidak boleh dijadikan medan perang karena yang terbakar bukan hanya bangunan, tetapi masa depan Papua itu sendiri. Masyarakat menegaskan bahwa sekolah adalah ruang suci bagi anak-anak untuk bermimpi, bukan arena intimidasi.
Harapan Papua: Generasi Tumbuh dalam Damai
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa masa depan Papua hanya bisa dibangun melalui pendidikan yang aman, berkualitas, dan bebas dari teror. Anak-anak Papua berhak atas ruang belajar yang damai, bukan bayang-bayang senjata.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena melindungi pendidikan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.

















