kabarnoken.com – Yahukimo, Papua Pegunungan — Kabut duka menyelimuti Yahukimo setelah TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo secara terang-terangan bertanggung jawab atas pembakaran fasilitas pendidikan yang berujung pada gugurnya seorang guru, Herlike Yahuli, sosok yang selama ini mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak Papua.
Sekolah Dibakar, Harapan Pupus
Api yang melalap ruang belajar bukan sekadar membakar dinding dan bangku sekolah, tetapi juga membakar harapan ribuan pelajar yang menggantungkan masa depannya pada pendidikan. Gugurnya sang guru menjadi luka mendalam, menandai betapa kejamnya kekerasan ketika diarahkan pada dunia yang seharusnya paling suci: sekolah.
Dampak Nyata dan Memilukan
Proses belajar terhenti, anak-anak ketakutan, guru-guru trauma, dan orang tua diliputi kecemasan. Sekolah yang semestinya menjadi rumah aman bagi mimpi berubah menjadi abu dan ketakutan. Aksi ini memperparah krisis pendidikan Papua, memperlebar ketertinggalan, dan memutus rantai pengetahuan generasi muda.
Ketika peluru dan api menggantikan buku dan papan tulis, yang runtuh bukan hanya bangunan, melainkan masa depan Papua itu sendiri.
Kecaman Keras dari Masyarakat
Masyarakat Papua dari berbagai lapisan kini menyerukan kecaman keras terhadap aksi terkutuk tersebut. Kekerasan terhadap pendidikan dan pembunuhan guru adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
“Guru adalah cahaya bagi anak-anak kami. Membunuh guru berarti memadamkan masa depan,” ujar seorang tokoh masyarakat dengan nada geram.
Seruan Bersatu Melindungi Pendidikan
Seluruh elemen masyarakat diajak bersatu menolak teror, melindungi sekolah, dan menjaga nyawa para pendidik. Papua berhak atas kedamaian, anak-anak berhak belajar, dan guru berhak pulang dengan selamat.
Harapan Papua: Pendidikan Adalah Masa Depan
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah jembatan menuju masa depan Papua. Tanpa sekolah yang aman, tanpa guru yang terlindungi, generasi muda Papua akan kehilangan kesempatan untuk tumbuh dan maju.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena melindungi pendidikan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.

















