Buku Kedua : PUNYA ARTI SEBELUM MATI, PERJUANGAN SEORANG DOKTER YANG TERINFEKSI HIV

Kabarnoken.com, Merauke – Banyak orang ‘sehat’ takut berdekatan dengan ODHA (Orang Hidup Dengan HIV AIDS) dengan alasan takut tertular, ini sebait kalimat dalam ulasan buku pertama drg. Maruli Togatorop yang menulis sendiri pengalaman pribadinya lewat buku pertamanya DOKTER KENA HIV (yang terbit November 2018).

Saat ditemui Kabar Noken, Drg. Maruli Togatorop, yang hampir setahun lebih ini, hidup dalam framming pola hidup sehat memutar balik hidupnya 180 derajat dengan pola makan sehat dari sebelumnya.

Drg. Maruli Togatorop

Ia benar-benar memiliki tekad yang kuat untuk mengubah pola makannya dengan mengurangi hidangan karbo, diganti dengan perbanyak juice dan buah-buahan serta sayuran segar. Alhasil bobot tubuhnya jauh berkurang banyak.

Dokter yang setiap harinya bergiat di Klinik Animha ini seolah mematahkan image bahwasanya ODHA hanya bisa tergolek pasrah tanpa dapat berbuat apa-apa.

Justru sebaliknya, menurut pria yang saat ini tengah merampungkan buku keduanya, banyak berkisah tentang hidupnya yang terus berjuang menjaga kesehatannya agar terus dapat produktif berkarya. 

Dalam buku Pertamanya DOKTER KENA HIV, menjadi satu gambaran fakta bahwa setiap orang siapa saja bisa tertular virus yang menyerang kekebalan tubuh ini.

Dokter yang sudah seatle membuka statusnya ini bertutur dalam buku pertamanya bagaimana ia harus berjuang dan merangkak untuk menerima fakta bahwa ia seorang pribadi dengan virus HIV disepanjang umur hidupnya.

Perjuangan yang tidak mudah untuk menerima kenyataan. Namun ia memilih untuk tidak menyerah.

Saat ia patuh untuk selalu disiplin mengkonsumsi ARV ( Antiretroviral ) dan dia pun hidup dengan pola makan sehat, berolahraga dengan terutama membangun pikiran yang positif.

Dokter yang memilih untuk tidak praktek lagi , merasa justru dengan virus ditubuhnya seperti berkat tersamar, ungkapnya kepada Kabar Noken. Woow, bagi sebagian orang hal ini seperti bencana namun tidak bagi Maruli Togatorop.

Sedikitpun tidak ada keluhan nada minder dalam dialognya. Katanya, “Kalo saya bukan seorang ODHA, pasti saya tidak akan pernah menulis buku. Gak pernah bercita-cita menjadi penulis” Ujarnya.

Lanjut Maruli, “Namun, sekiranya saya dipercaya oleh Tuhan, hidup saya boleh menjadi inspirasi bagi sesama ODHA untuk tetap survive, bangkit dan berkarya..”

drg. Maruli Togatorop saat ditemui team Kabar Noken.(Will)

Lewat Buku pertama yang sudah mendapat respon positif dari seluruh teman-teman,  ODHA tidak hanya di Merauke tetapi di Bandung, Jakarta, Jogya, dan seluruh Indonesia, bahkan beberapa teman di luar negeri.

Buku tersebut harus dicetak berulang-ulang. Bahkan khusus di edisi terakhir Buku pertamanya akan dicetak exclusive bersama dengan buku kedua yang akan lebih banyak bercerita tentang success storinya, tentang penerimaan diri dan hidup berdamai dengan Virus HIV serta pola hidup sehat yang sudah dia buktikan bahwa dirinya sama dengan orang yang tidak HIV.

Saat ini, dirinya tengah merampungkan buku kedua yang diberi judul ‘PUNYA ARTI SEBELUM MATI : PERJUANGAN SEORANG DOKTER YANG TERINFEKSI VIRUS HIV’

Masih dalam passion yang sama, dalam buku kedua ini ia mendorong agar seorang ODHIV ia mengganti kata ODHA harus berani membuka diri  dan menerima diri nya agar tetap bisa melanjutkan kehidupannya dengan damai.

Stigma menjadi salah satu faktor seorang ODHIV menjadi cepat down. Stigma yang selama ini masih kental di masyarakat secara tidak langsung dapat membunuh mental dan semangat ODHIV.

Perlu pemahaman yang harus terus digaungkan agar masyarakat bisa positif thingking berdampingan dengan teman, sahabat, keluarga bahkan pasangan dengan status ODHIV.

Hal ini akan membantu ODHIV menjadi percaya diri. Kiranya lewat kisah dalam buku kedua yang sementara masih dalam proses pengerjaan ini, bisa menjadi salah satu media pembelajaran bagi masyarakat pembaca untuk bisa hidup bersama Seorang ODHIV tutur Maruli menutup perbincangan dengan Kabar Noken.

Kontributor : Will

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.