Kabarnoken.com- Bupati Kabupaten Yahukimo, Didimus Yahuli, mengutuk keras serangan yang dilakukan oleh kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) terhadap tenaga pengajar dan tenaga kesehatan di wilayah tersebut. Kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu telah mengundang kecaman dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah dan masyarakat, yang merasa sangat terganggu dengan aksi kekerasan yang tidak berperikemanusiaan tersebut.
Dalam pernyataannya, Bupati Didimus Yahuli menyebutkan bahwa tindakan kekerasan yang menargetkan tenaga pengajar dan tenaga kesehatan merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia (HAM) dan merupakan bentuk ketidakadilan yang merugikan masyarakat Papua, khususnya di Yahukimo. “Serangan terhadap tenaga pengajar dan tenaga kesehatan adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan dalam kondisi apapun. Mereka adalah pahlawan yang seharusnya dihormati dan dilindungi, bukan menjadi sasaran kekerasan,” ujar Bupati Didimus Yahuli dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Pemerintahan Yahukimo.
Pada beberapa hari yang lalu, serangan yang diduga dilakukan oleh kelompok OPM menargetkan tenaga pengajar dan tenaga kesehatan di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo. Beberapa tenaga pengajar, yang sedang menjalankan tugas mengajar di sekolah-sekolah setempat, menjadi korban kekerasan, sementara beberapa fasilitas kesehatan juga dihancurkan. Tindakan ini menambah ketegangan yang sudah berlangsung lama di Papua, dan semakin memperburuk kondisi sosial ekonomi di wilayah yang sudah terisolasi tersebut.
Bupati Didimus Yahuli menambahkan bahwa serangan ini tidak hanya merusak infrastruktur pendidikan dan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi juga menambah trauma bagi warga yang sudah lama hidup dalam ketidakpastian dan ketakutan. “Apa yang dilakukan oleh kelompok OPM ini sangat tidak manusiawi. Mereka menyerang pahlawan-pahlawan kemanusiaan yang justru berada di garis depan untuk membantu rakyat, memberi pendidikan kepada anak-anak, dan memberikan pelayanan kesehatan kepada yang membutuhkan,” tegasnya.
Tokoh masyarakat Papua, yang juga merupakan perwakilan dari berbagai suku dan komunitas adat di Yahukimo, turut mengutuk keras tindakan tersebut. “Kami sangat marah dan kecewa dengan apa yang telah terjadi. Tenaga pengajar dan tenaga kesehatan seharusnya dihormati karena mereka berjuang untuk anak-anak kami dan masyarakat di daerah yang sulit ini. Kami tidak ingin ada lagi kekerasan terhadap orang-orang yang berusaha membantu kami,” ujar Yuliana Wate, seorang tokoh adat yang berasal dari Kabupaten Yahukimo.
Menurut Yuliana, serangan seperti ini tidak hanya merusak hubungan antara masyarakat dan pemerintah, tetapi juga memperburuk citra kelompok yang mengklaim berjuang untuk kemerdekaan Papua. “Kami ingin Papua berkembang, kami ingin anak-anak kami mendapatkan pendidikan yang layak, dan orang tua kami mendapat layanan kesehatan yang memadai. Tetapi dengan terus terjadi kekerasan seperti ini, semua harapan itu semakin sulit untuk diwujudkan,” tambahnya.
Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya memberikan perlindungan terhadap tenaga pengajar dan tenaga kesehatan yang berada di daerah konflik. Masyarakat berharap agar pemerintah lebih meningkatkan keamanan dan memberikan dukungan yang lebih besar kepada tenaga pendidik dan tenaga kesehatan, agar mereka dapat bekerja dengan tenang tanpa takut menjadi sasaran serangan.
Selain itu, program-program pelatihan dan pemberdayaan masyarakat juga diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keamanan dan kedamaian. Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat, diharapkan Papua dapat menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Bupati Didimus Yahuli menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa pemerintah Kabupaten Yahukimo akan terus berusaha untuk memastikan bahwa masyarakat dapat hidup dalam kedamaian dan keamanan. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bekerja sama dalam mewujudkan Papua yang aman dan sejahtera.
“Kami tidak akan pernah menyerah untuk menciptakan kondisi yang lebih baik bagi masyarakat Yahukimo. Kami berharap kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang lagi, dan kami meminta semua pihak untuk mendukung upaya kami dalam membangun daerah ini,” ujar Bupati dengan tegas.
Keberanian tenaga pengajar dan tenaga kesehatan di Papua, khususnya di Kabupaten Yahukimo, untuk terus melayani meskipun dihadapkan pada ancaman dan kekerasan patut dihargai dan dihormati. Tindakan kekerasan terhadap mereka, yang merupakan ujung tombak pembangunan di daerah terpencil, jelas merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang tidak bisa diterima. Sinergitas antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat diharapkan dapat segera mengakhiri kekerasan dan membawa kedamaian bagi Papua.