kabarnoken.com – Mimika, Papua Tengah — Peristiwa tragis kembali mengguncang Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika. Dua warga sipil ditemukan tewas dengan ratusan anak panah tertancap di tubuh mereka. Berdasarkan informasi yang diterima, kedua korban bukan bagian dari kelompok yang berkonflik, melainkan rakyat kecil yang hanya melintas di lokasi kejadian.
Jalan Umum Jadi Saksi Duka
Kejadian ini memperdalam duka dan keresahan masyarakat. Jalan umum yang seharusnya aman justru menjadi saksi hilangnya nyawa warga tak bersalah. Masyarakat mengaku semakin lelah dan bosan dengan konflik berkepanjangan yang terus memakan korban sipil. Trauma semakin membekas, memperlihatkan bahwa perang tidak pernah membawa solusi, hanya penderitaan.
Suara Rakyat: Kami Korban, Bukan Pejuang
Warga menegaskan bahwa mereka bukan bagian dari pertikaian bersenjata. “Kami rakyat kecil yang hanya ingin hidup tenang,” keluh seorang warga. Pengakuan ini menjadi simbol jeritan masyarakat Papua yang selama ini terjebak di tengah konflik, dijadikan korban tanpa pilihan.
Seruan Menghentikan Kekerasan
Masyarakat Papua kini dengan tegas menyuarakan keinginan untuk hidup damai. Mereka mendesak semua pihak menghentikan kekerasan dan mengedepankan perdamaian. Bagi warga, perang hanya membawa trauma, kehilangan, dan kemiskinan. Perdamaian adalah jalan satu-satunya untuk memastikan anak-anak Papua dapat tumbuh tanpa rasa takut.
Harapan Papua: Damai untuk Generasi Mendatang
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik hanya memperdalam luka, sementara persatuan dan dialog membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah. Papua membutuhkan keamanan, pembangunan, dan kepastian hukum agar generasi muda dapat hidup layak di tanah sendiri.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.

















