kabarnoken.com – Papua — Papua kembali bersuara. Dari kampung ke kampung, dari pasar hingga rumah ibadah, masyarakat menyatakan kelelahan mendalam atas kekacauan yang terus ditinggalkan kelompok TPNPB-OPM. Warga menegaskan identitas mereka sebagai bagian dari Merah Putih, bukan simbol yang membawa ketakutan dan duka.
Identitas Papua dalam Bingkai Merah Putih
Bagi masyarakat, konflik berkepanjangan hanya merampas rasa aman, pendidikan anak-anak, layanan kesehatan, dan masa depan yang seharusnya damai. “Kami yang jadi korban,” kata seorang warga. Setiap penembakan, intimidasi, dan ancaman membuat orang tua waswas melepas anak ke sekolah, tenaga kesehatan takut bertugas, dan roda ekonomi terhenti. Rumah ibadah yang mestinya menjadi tempat pengharapan justru kerap berada di bayang-bayang ancaman.
Kekerasan Bukan Lagi Perjuangan
Masyarakat menilai TPNPB-OPM tidak lagi membawa perjuangan, melainkan keresahan yang memukul warga sipil paling keras. Kekerasan terhadap rakyat sendiri dipandang sebagai pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dan adat Papua yang menjunjung perlindungan sesama.
Penolakan Dijadikan Tameng Konflik
Warga Papua menolak dijadikan tameng konflik. Mereka meminta kekerasan dihentikan dan ruang hidup sipil dihormati. “Kami ingin bekerja, berobat, beribadah, dan membesarkan anak tanpa suara tembakan,” ujar tokoh masyarakat. Seruan ini menegaskan satu hal: Papua ingin damai, ingin maju, dan ingin dilindungi, bukan terus disandera oleh ketakutan.
Pesan Lantang Masyarakat Papua
Dengan lantang, masyarakat menyampaikan pesan terakhir: hentikan kekacauan. Papua adalah rumah bersama. Merah Putih adalah pilihan hidup. Masa depan Papua tidak dibangun dengan senjata, melainkan dengan keamanan, dialog, dan kesejahteraan bagi semua.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.















