Katane Support Group : Minimnya Bantuan Dana Bagi ODHA

Kabarnoken.com, Merauke – Ditengah  tantangan situasi pandemik Covid 19  saat ini , Herlina Fonataba Leader dari sebuah Kelompok Dampingan Sebaya (KDS) Katane Support Group saat ditemui Kabar Noken tengah membuat program plan B untuk mensiasati pelayanannya  kepada  teman-teman  ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) diwilayah dampingannya  (23/08/20).

Katane Support Group  berdiri sejak 7 tahun lalu tepatnya 13 Februari 2013, dimana awalnya mendampingi  35 orang ODHA dari 2406 kasus, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Menurut keterangan yang dihimpun, dari jumlah 35 ODHA tersebut 8 orang diantaranya telah meninggal dunia, 3 orang ODHA tercatat sudah Lost to follow up atau putus pengobatan Antiretroviral  (ARV) sejak pindah ke Kabupaten Mappi dan Asmat, tersisa 20 ODHA  yang hingga kini masih taat ARV dan menjalani rutinitas berobat ke Klinik Animha di RSUD.

Leader Katane Support Group Herlina Fonataba. (Kabar Noken/ Will)

Dalam perjalanannya memimpin Katane, Herlin yang seorang aktivis pernah bertahun-tahun bekerja untuk program yang sama di BPKM Yasanto. Kemudian dia bersama dengan teman-teman aktivis lainnya seperti dari El-Adper membangun KDS ini secara swadaya dan belum mendapat dukungan dari pihak manapun.

Perlahan – lahan  Katane mendapat dukungan dari Klinik Animha RSUD Merauke terkait persediaan nutrisi bagi ODHA, termasuk dukungan transport ODHA hingga saat ini.

Pada tahun 2018 , Katane Support Group baru mendapat perhatian pula dari KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) berupa bantuan dana untuk kegiatan pertemuan ODHA, Home Visit, Hosputal Visit dan Pelatihan Pemulihan Korban (Perempuan korban kekerasan yang rentan HIV).

Pada tahun 2019 , Katane mendapat support penelitian dan capacity building dari Program Asia Justice And Right (AJAR)

Masih menurut perempuan berdarah Serui ini, terkait aktivitasnya mendampingi teman-teman ODHA, sebagai masyarakat Herlina menyikapi bahwa dana APBD akan menjadi persoalan jika belum mengakomodir kepentingan para ODHA yang selama ini ada dalam dampingan Kelompok Dampingan Sebaya (KDS) sesuai dengan Rancangan Aksi Daerah ( RAD).

Dalam RAD yang merupakan target triple nineteen 90% – 90% – 90% artinya temukan sembilan puluh persen lewat pencegahan, pemberian informasi dan advokasi.

Sembilan puluh persen mengobati dengan ARV, sembilan puluh persen mempertahakan agar ODHA tidak putus pengobatan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ODHA harus mendapatkan nutrisi yang cukup untuk mempertahankan hidup mereka.

 Hal penting yang harus tetap dilakukan oleh Katane yakni pendampingan, Herlina dkk, harus tetap survive dengan minimnya support anggaran dari KPA.

Ia menyadari saat ini tidak hanya Katane Support Group saja tetapi seperti Yayasan Cendrawasih Bersatu (YCB) dan Merauke Support Group (MSG) juga  belum mendapat bantuan dana dari KPA.

Ketika pihaknya coba membangun komunikasi dengan KPA, faktanya sepanjang tahun anggaran 2020 ini, KPA sendiri belum mendapat bantuan dana hibah dari Pemerintah Daerah.

Masih menurut Herlina, ketiadaan support dana bagi KDS akan berdampak pada kesehatan ODHA terutama masalah pendidikan juga bagi anak-anak yang berstatus ODHA karena tidak adanya dana transport untuk mengambil buku paket di sekolah serta kebutuhan lainnya.

Tak dipungkiri, Herlina kerap bersyukur atas perhatian Dinas Sosial yang selama ini masih membantu dengan peti jenazah gratis dan ambulance bagi ODHA yang meninggal.

Ia masih berharap ada keberpihakan dari Pemerintah Daerah untuk mendukung KDS sepertinya lewat bantuan dana dari Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Merauke.

Kontributor : Will

One thought on “Katane Support Group : Minimnya Bantuan Dana Bagi ODHA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.