Kabarnoken.com- Konflik internal di tubuh Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin jelas terlihat. Setelah kehilangan banyak simpati dan kepercayaan dari sebagian besar masyarakat serta anggotanya sendiri, pimpinan OPM Kodap III Ndugama, Egianus Kogoya, dikabarkan kini mulai merekrut perempuan untuk dijadikan anggota dalam kelompoknya. Langkah ini dinilai sebagai upaya mempertahankan eksistensi kelompok yang semakin terpojok.
Tokoh Masyarakat setempat menyebutkan perekrutan perempuan ini merupakan dampak dari semakin hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap OPM. Banyak anggota laki-laki sebelumnya memilih mundur atau menyerahkan diri kepada aparat keamanan karena tidak lagi merasa nyaman berada dalam kelompok.
“Egianus Kogoya mengalami penurunan kekuatan signifikan. Banyak anggotanya yang sudah keluar, sementara masyarakat semakin menolak keberadaan OPM. Itulah mengapa ia mencoba jalan pintas dengan merekrut perempuan, meski cara ini jelas tidak manusiawi,” ungkap Markus Yekwam, Tokoh Masyarakat setempat, Jumat (29/8/2025).
Markus menambahkan, strategi Egianus ini menunjukkan bahwa OPM semakin terdesak dan kehilangan kendali. “Kalau perjuangan mereka benar, tidak mungkin harus melibatkan perempuan dengan cara seperti ini. Ini hanya memperlihatkan lemahnya konsistensi dan keputusasaan mereka,” ujarnya.
Selain menuai kecaman, langkah Egianus Kogoya merekrut perempuan juga menimbulkan keresahan sosial. Banyak keluarga khawatir anak-anak perempuan mereka akan menjadi sasaran perekrutan paksa. Hal ini menambah trauma di tengah masyarakat yang selama ini sudah hidup dalam bayang-bayang teror akibat ulah OPM.
“Bukan hanya mengancam keamanan, tetapi juga merusak masa depan perempuan Papua. Mereka seharusnya bisa bersekolah, bekerja, dan membangun daerah, bukan dipaksa ikut dalam kelompok bersenjata,” kata Yohana Wanimbo, aktivis perempuan Papua.
Langkah Egianus Kogoya merekrut perempuan ke dalam kelompok OPM menandai babak baru keputusasaan organisasi tersebut. Setelah kehilangan kepercayaan dan banyak ditinggalkan anggota, kini Egianus berusaha menutup celah kelemahan dengan cara yang justru melukai nilai budaya dan kemanusiaan Papua.