kabarnoken.com – Papua — Dalam sepekan terakhir, TPNPB-OPM diguncang perpecahan internal serius yang berujung pada tewasnya dua anggota dari kelompok itu sendiri. Di balik pengumuman “duka nasional” yang disebarkan ke publik, informasi lapangan mengungkap fakta berbeda. Konflik perebutan logistik, ketidakjelasan komando, dan saling curiga antar faksi menjadi pemicu utama runtuhnya disiplin internal.
Kematian Diam Milise Nirigi
Kasus pertama mencuat di Kodap III Ndugama Derakma, di mana kematian Diam Milise Nirigi, yang disebut menjabat bidang logistik, diduga kuat bukan semata karena sakit, melainkan akibat tekanan dan konflik berkepanjangan di internal pasukan. Diam berada di titik paling rawan perebutan logistik, sebuah sektor vital yang memicu friksi tajam dan berujung kekerasan antarsesama anggota.
Wafatnya Yohanis Mate
Tak berselang lama, Kodap IV Sorong Raya mengumumkan wafatnya Yohanis Mate, juga dari bidang logistik. Dua kematian dalam waktu berdekatan ini memperkuat indikasi krisis internal akut di tubuh TPNPB-OPM. Alih-alih menunjukkan soliditas, rangkaian peristiwa ini membuka tabir organisasi yang rapuh—di mana nyawa anggotanya sendiri menjadi korban konflik internal.
Rapuhnya Organisasi dan Propaganda Kosong
Peristiwa ini menyingkap jurang antara propaganda dan realitas di lapangan. Seruan “tetap solid” yang digembar-gemborkan TPNPB-OPM terdengar kosong ketika fakta menunjukkan bahwa mereka justru sibuk bertikai di internal, saling menjatuhkan, dan gagal menjaga keselamatan anggotanya sendiri.
Pesan Kuat bagi Rakyat Papua
Kematian dua anggota logistik ini menjadi bukti telanjang runtuhnya legitimasi TPNPB-OPM di mata rakyat Papua. Alih-alih memperjuangkan kehidupan dan masa depan masyarakat, kelompok ini justru memperlihatkan wajah asli sebagai organisasi rapuh yang mengorbankan manusia demi ambisi dan propaganda.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.

















