Lapisan Es di Greenland Mencair, Ilmuwan Ungkap Tak Akan Pulih

KOMPAS.com – Lapisan es Greenland mungkin sudah mencapai titik yang kritis dan benar-benar akan menghilang.

Menurut para peneliti di Ohio State University, hujan salju yang biasanya mengisi kembali gletser di Greenland setiap tahun, tidak dapat lagi mengikuti laju pencairan es.

Artinya, lapisan es Greenland akan terus kehilangan es, bahkan jika kenaikan suhu global berhenti.

Padahal, lapisan es Greenland adalah badan es terbesar kedua di dunia. Dalam studi mereka, seperti dilansir dari Science Alert, Senin (17/8/2020), para ilmuwan telah meninjau 40 tahun data satelit bulanan dari lebih 200 gletser besar yang mengalir ke laut melintasi Greenland.

“Apa yang kami temukan adalah es yang mengalir ke laut jauh melebihi salju yang menumpuk di permukaan lapisan es,” kata Michaela King penulis penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature, Kamis (13/8/2020) lalu.

Kawasan perairan sekitar Greenland dipenuhi bongkahan es yang mencair.

Peneliti di Byrd Polar and Climate Research Center Ohio State University ini memperkirakan pencairan lengkap lapisan es Greenland dapat menaikkan permukaan laut hingga 23 kaki atau 7 meter pada tahun 3000.

Jika hal itu terjadi, maka lautan akan menelan kota-kota pesisir di seluruh dunia.

Es Greenland selama ini sudah menjadi penyumbang kenaikan permukaan laut terbesar di dunia. Menurut sebuah penelitian, hanya dalam 80 tahun ke depan, laju pencairan es saat ini tercatat akan menambah kenaikan permukaan laut global setinggi 6,9 cm.

“Kemunduran gletser telah membuat dinamika seluruh lapisan es menjadi semakin terus menghilang,” kata Ian Howat, seorang ahli glasiologi dan rekan penulis di makalah tersebut.

Bahkan jika iklim tetap sama, atau mungkin menjadi lebih sedikit dingin, kata Howat, lapisan es ini akan tetap kehilangan massanya.

Ini hanyalah salah satu dari banyak titik kritis dari dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Masih ada waktu untuk menghindari jalur yang tidak dapat diubah menuju bencana lainnya. 

Dampak pencairan lapisan es Peneliti melaporkan jumlah es yang menghilang di Greenland setiap tahun terus meningkat dalam dua dekade terakhir.

Sebelum tahun 2000, lapisan es memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan atau kehilangan massa setiap tahun.

Akan tetapi, iklim selama 20 tahun terakhir, peneliti menemukan hanya akan menambah satu massa setiap 100 tahun.

Belum pernah terjadi sebelumnya, Greenland membuang jumlah es dan air ke laut selama musim panas 2019, ketika gelombang panas dari Eropa menyapu pulau itu. 

Sedikitnya, lapisan es kehilangan 55 miliar ton air selama lima hari. Pencairan es menyebabkan lebih banyak air yang dapat menggenang di seluruh lapisan es, sehingga menyerap lebih banyak sinar matahari dan selanjutnya memanaskan segala sesuatu di sekitarnya. 

Itulah mengapa titik kritis seperti Greenland mempercepat hilangnya es begitu banyak. Di Arktik, pencairan es mengekspos permafrost, tanah beku yang melepaskan gas rumah kaca yang kuat saat mencair.

Jika pemanasan cukup mencairkan permafrost, maka gas yang dilepaskan akan memerangkap panas lebih cepat daripada emisi bahan bakar fosil manusia.

Di hutan hujan Amazon, manusia telah menebang dan membakar pohon selama bertahun-tahun, memungkinkan kelembapan keluar dari ekosistem. 

Deforestasi yang cukup dapat memicu proses yang disebut “dieback”, di mana hutan hujan akan mengering, terbakar, dan menjadi lanskap seperti sabana, melepaskan hingga 140 miliar ton karbon ke atmosfer.

Tahun lalu, ilmuwan telah memperingatkan bahwa Amazon “tertatih-tatih di tepi” ambang itu. Bahkan untuk lapisan es Greenland, titik kritis masih akan lebih banyak dihadapi di masa depan.

Derajat keruntuhan yang akan semakin mempercepat pencairan gletser. Ilmuwan menilai dengan membatasi pemanasan global dapat menunda titik kritis tersebut dan memberi dunia lebih banyak waktu untuk bersiap.

Sumber : Kompas.com

18 thoughts on “Lapisan Es di Greenland Mencair, Ilmuwan Ungkap Tak Akan Pulih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.