Kabarnoken.com- Kelompok bersenjata OPM Kodap XXXV Bintang Timur kembali menebar isu kontroversial dengan mengklaim telah menangkap dan mengeksekusi dua agen intelijen militer Indonesia. Klaim tersebut mereka sebarkan melalui pernyataan resmi yang menyebut bahwa kedua orang itu dituduh melakukan misi intelijen untuk mengawasi pergerakan pasukan TPNPB Kodap XXXV Bintang Timur di wilayah konflik.
Dalam narasi yang mereka bangun, kelompok itu bahkan menyebut telah melakukan interogasi terhadap kedua orang yang ditangkap, dan menuduh mereka terlibat dalam pengumpulan informasi bagi aparat militer. “Atas keterlibatan kedua informan aparat militer Indonesia di wilayah perang tersebut, kami telah melakukan eksekusi mati terhadap kedua korban,” bunyi klaim yang disebarkan.
Namun, klaim tersebut segera dimentahkan oleh Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, yang menegaskan bahwa pernyataan Kodap XXXV Bintang Timur tidak benar. Ia menyebutkan bahwa informasi itu hanyalah hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
“Itu hanya berita bohong. Tidak ada penangkapan ataupun eksekusi. Kodap XXXV harus bertanggung jawab atas pernyataan yang sudah memperburuk nama OPM,” ujar Sebby, Minggu (31/8/2025).
Kabar tersebut langsung menuai kecaman dari berbagai pihak di Papua. Yohanes Tabuni, tokoh masyarakat asal Jayawijaya, menilai penyebaran berita palsu semacam ini hanya menambah keresahan di tengah masyarakat.
“Isu-isu seperti ini jelas menakutkan bagi warga. Padahal faktanya tidak pernah terbukti. Ini bukan hanya merugikan citra kelompok mereka, tetapi juga membuat masyarakat sipil kembali trauma,” tegas Yohanes.
Tokoh adat dari Pegunungan Bintang, Abraham Wenda, menyebutkan bahwa pernyataan sepihak OPM Kodap XXXV menunjukkan ketidakseriusan kelompok itu dalam menjaga martabat perjuangan yang sering mereka klaim.
“Kalau memang perjuangan, harus jujur dan tidak menebar hoaks. Menyebarkan kabar bohong tentang eksekusi hanya membuat nama Papua semakin buruk di mata luar,” ujarnya.
Masyarakat Papua menegaskan bahwa mereka sudah lelah dengan propaganda kosong yang justru menimbulkan keresahan. Mereka berharap OPM berhenti menyebarkan hoaks dan berhenti mengorbankan masyarakat demi kepentingan kelompok.