kabarnoken.com – Papua — Pernyataan terbuka Sebby Sambom selaku juru bicara TPNPB-OPM melalui sebuah video mengguncang hati masyarakat Papua. Dalam rekaman tersebut, Sebby secara terang-terangan menyatakan bahwa TPNPB-OPM bertanggung jawab atas pembakaran sekolah, rumah ibadah, rumah-rumah guru, rumah sakit, rumah-rumah dan gedung pemerintah, serta aksi penembakan terhadap pesawat. Pengakuan ini seolah menghapus segala keraguan publik dan menegaskan bahwa rangkaian teror yang selama ini terjadi adalah tindakan yang disengaja.
Luka Mendalam bagi Rakyat Papua
Dampaknya dirasakan langsung oleh rakyat Papua, terutama masyarakat kecil yang tidak pernah terlibat konflik. Sekolah yang terbakar memadamkan harapan anak-anak untuk belajar, rumah ibadah yang dihancurkan merobek ruang doa dan penghiburan, sementara rumah sakit yang diserang membuat warga kehilangan tempat bergantung untuk hidup. Guru-guru hidup dalam ketakutan, tenaga kesehatan bekerja di bawah ancaman, dan pelayanan pemerintahan lumpuh. Papua pun seakan dipaksa hidup dalam bayang-bayang api dan senjata.
Kekerasan yang Mengatasnamakan Perjuangan
Pengakuan ini memperlihatkan wajah nyata TPNPB-OPM: bukan perjuangan, melainkan teror yang merampas hak-hak dasar masyarakat. Alih-alih membela rakyat, tindakan brutal tersebut justru menghancurkan ruang hidup sipil dan memperdalam luka sosial. Masyarakat menilai bahwa kekerasan yang mengatasnamakan perjuangan hanyalah pengkhianatan terhadap masa depan Papua.
Suara Rakyat: Tolak Kekerasan, Pilih Damai
Di tengah pengakuan itu, suara rakyat Papua kian lantang menolak kekerasan. Warga menyatakan bahwa yang terbakar bukan hanya bangunan, tetapi masa depan generasi Papua. Mereka menuntut agar teror dihentikan, karena penderitaan yang ditanggung masyarakat sudah terlalu dalam.
“Papua ingin bangkit, bukan terus terpuruk oleh kekerasan yang mengatasnamakan perjuangan,” tegas seorang tokoh masyarakat.
Harapan Papua: Pembangunan dan Persatuan
Bagi rakyat, perdamaian dan pembangunan adalah jalan hidup, bukan pembakaran sekolah dan ancaman senjata. Papua membutuhkan ruang aman untuk bekerja, bersekolah, beribadah, dan membangun masa depan. Persatuan dengan Merah Putih menjadi simbol harapan agar generasi muda Papua tumbuh dalam damai, bukan dalam trauma.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.

















