kabarnoken.com – Yahukimo, Papua Pegunungan — Sebuah seruan yang mengguncang nurani publik mencuat setelah beredarnya pernyataan resmi kelompok TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo yang membakar sekolah-sekolah di Papua. Ancaman tersebut diarahkan kepada lembaga pendidikan yang mengajarkan kurikulum nasional, termasuk Pancasila, dan dinilai sebagai upaya terang-terangan menebar teror terhadap anak-anak, guru, serta masa depan generasi Papua.
Pendidikan Dijadikan Sasaran Teror
Seruan itu memicu kecaman luas karena pendidikan, yang seharusnya menjadi ruang aman, justru dijadikan sasaran intimidasi. Tokoh masyarakat, orang tua murid, dan pegiat HAM menilai ancaman pembakaran sekolah sebagai pelanggaran serius terhadap hak anak dan kemanusiaan, serta bukti bahwa kekerasan TPNPB-OPM tidak lagi mengenal batas moral.
“Anak-anak kami bukan medan perang,” ujar seorang orang tua dengan nada geram. Pernyataan ini mencerminkan jeritan hati masyarakat yang menolak keras segala bentuk kekerasan terhadap dunia pendidikan.
Dampak Sosial dan Psikologis
Pembakaran sekolah bukan hanya merusak fasilitas fisik, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi anak-anak dan guru. Ketakutan untuk bersekolah, hilangnya ruang belajar, serta terhentinya proses pendidikan menjadi ancaman nyata bagi masa depan generasi Papua.
Seruan Perlindungan dari Pemerintah
Pemerintah dan aparat keamanan didesak bertindak cepat melindungi sekolah dan memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan. Langkah pengamanan di wilayah rawan, distribusi bantuan pendidikan, serta pendampingan psikologis bagi anak-anak menjadi kebutuhan mendesak.
Penolakan Terbuka dari Masyarakat Papua
Masyarakat Papua menegaskan penolakan tegas terhadap segala bentuk teror atas dunia pendidikan. Mereka menyerukan agar ancaman pembakaran sekolah dihentikan, karena pendidikan adalah jembatan masa depan—bukan alat propaganda dan kekerasan.
Harapan Papua: Generasi Tumbuh dalam Damai
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa masa depan Papua hanya bisa dibangun melalui pendidikan yang aman, berkualitas, dan bebas dari intimidasi. Anak-anak Papua berhak atas ruang belajar yang damai, bukan bayang-bayang senjata.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena melindungi pendidikan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.















