kabarnoken.com – Dekai, Yahukimo — Upaya TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo untuk membangun narasi perlawanan kembali terpatahkan di hadapan fakta lapangan. Penangkapan enam orang yang selama ini bergerak dalam lingkaran Kodap XVI justru membuka tabir melemahnya struktur dan moril kelompok bersenjata tersebut.
Struktur dan Moril TPNPB-OPM Melemah
Dari hasil pendalaman aparat, empat di antaranya mengaku sebagai bagian dari Batalyon Sisibia TPNPB-OPM yang mengalami kehabisan daya tempur. Jaringan mereka terurai satu per satu, memperlihatkan bahwa kekuatan bersenjata yang selama ini dipropagandakan semakin rapuh. Penangkapan ini disebut sebagai titik balik, menandai kekalahan TPNPB-OPM yang selama ini mengintimidasi warga dengan ancaman dan teror.
Rasa Aman Kembali Hadir
Dari sudut pandang masyarakat Papua, khususnya Yahukimo, langkah tegas TNI menghadirkan rasa aman yang lama hilang. Warga menyampaikan terima kasih kepada aparat atas keberhasilan mengamankan pihak-pihak yang selama ini meresahkan, menebar ketakutan, dan mengganggu aktivitas sipil.
“Kami ingin hidup tenang, anak-anak sekolah, orang tua bekerja. Penangkapan ini membuat kami berani berharap lagi,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Pesan Tegas Rakyat Papua
Kini, pesan rakyat Yahukimo jelas: Papua tidak butuh intimidasi, tidak butuh senjata, dan tidak butuh kekerasan. Yang dibutuhkan adalah keamanan dan kepastian hidup. Penangkapan anggota TPNPB-OPM Kodap XVI menjadi bukti bahwa narasi perlawanan bersenjata semakin rapuh, sementara suara rakyat Papua kian tegas memilih damai.
Harapan Papua: Damai dan Pembangunan
Peristiwa ini menegaskan bahwa masa depan Papua hanya bisa dibangun melalui persatuan, pembangunan, dan rasa aman. Kekerasan tidak pernah membawa solusi, sementara perdamaian membuka jalan menuju kesejahteraan generasi mendatang.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.

















