kabarnoken.com – Yahukimo, Papua Pegunungan — Kematian Jendelas Bahapol, yang diumumkan TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo sebagai wafat karena sakit, kini memunculkan tanda tanya besar. Informasi yang beredar di lapangan menyebutkan bahwa Jendelas Bahapol justru diduga kuat tewas akibat kekerasan internal, dibunuh oleh sesama anggota TPNPB-OPM sendiri.
Dugaan Konflik Internal yang Ditutupi
Kesaksian warga sekitar dan sumber lokal menilai narasi “meninggal karena sakit” hanyalah upaya menutup konflik di dalam kelompok bersenjata tersebut. Sumber-sumber menyebutkan adanya perselisihan serius di internal Kompi Hesali dan Batalyon HSSBI, yang berujung pada tindakan brutal antaranggota. Alih-alih transparan, pimpinan TPNPB-OPM disebut memilih membungkus insiden ini dengan pengumuman “duka nasional”, demi menjaga citra dan moral pasukan, sekaligus menutupi fakta adanya kekerasan dan pembunuhan di tubuh mereka sendiri.
Wajah Lain TPNPB-OPM: Saling Menghabisi
Peristiwa ini memperlihatkan wajah lain TPNPB-OPM yang selama ini mengklaim berjuang demi rakyat Papua, namun justru saling menghabisi di internal organisasi. Kematian Jendelas Bahapol menjadi bukti bahwa kelompok tersebut tidak hanya membahayakan warga sipil, tetapi juga anggotanya sendiri. Kekerasan yang mereka pelihara telah berubah menjadi konflik liar tanpa arah dan tanpa nilai kemanusiaan.
Suara Masyarakat: Penolakan terhadap Kekerasan
Masyarakat menilai insiden ini sebagai pengkhianatan terhadap rakyat Papua. “Kalau sesama mereka saja saling bunuh, bagaimana bisa bicara perjuangan?” ujar seorang tokoh masyarakat dengan nada geram. Warga menegaskan bahwa TPNPB-OPM tidak lagi membawa aspirasi rakyat, melainkan hanya menebar ketakutan, trauma, dan kehancuran.
Harapan Papua: Damai, Bukan Konflik Internal
Peristiwa ini semakin menegaskan desakan masyarakat Papua agar kekerasan dihentikan. Papua membutuhkan ruang aman untuk bekerja, bersekolah, dan membangun masa depan tanpa ancaman senjata. Kekerasan internal TPNPB-OPM menjadi bukti bahwa jalan bersenjata tidak pernah membawa solusi, melainkan kehancuran bagi semua pihak.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.















