Sisi Lain Domin Ulukyanan : “Saya Mantan Pemburu yang Menjadi Guru”

Kabarnoken.com, Merauke – Sosok figur pensiunan guru pedalaaman yang Sejak 2009 dipercaya masyarakat menjadi seorang wakil rakyat ini merupakan sosok yang sangat humble atau rendah hati.

Jauh dari kesan arogan saat berkenan menerima team Kabar Noken dikediaman rumah jabatannya sebagai Wakil Ketua II  DPRD Kabupaten Merauke tepatnya di Jalan Sabang Merauke.

Team Kabar Noken saat mengunjungi kediaman Bapak Domin Ulukyanan. (Kabar Noken/ Aditya)

Sambil menikmati secangkir kopi hitam kesukaannya, Domin Ulukyanan laki-laki berdarah Kei yang sejak kedatangannya ke Papua pernah memberikan sebagian besar hidupnya sebagai guru dipedalaman Mappi tepatnya di sebuah kampung Distrik Meamur tahun 1982 hingga 1993 ini, tidak banyak yang mengetahui jika ia punya masa lalu keras.

Sambil mempersilahkan tim  Kabar Noken untuk menikmati kopi , ia bertutur . . dulu saya, pernah menjadi penyelundup kulit buaya, “Ujarnya tertawa renyah.

Tidak banyak yang tahu tentang masa lalu saya, bahkan jujur saya tidak pernah punya niat ingin menjadi guru, makanya jadi pemburu, “lanjutnya.

Dari hasil profesinya sebagai pemburu dan “penyeludup” kulit buaya kala itu tahun ’82 , ia mendapat penghasilan sebesar tiga hingga empat juta perbulan.

Bahkan laki-laki lulusan SPG Fajar Langgur tahun 1975 ini, pernah berjalan kaki dari wilayah Kimaam ke Merauke dengan memikul sendiri hasil buruannya berupa kulit buaya.

Jumlah uang yang didapat  tentu berbanding terbalik dengan gaji yang harus diterimanya sebagai guru pedalaman  dan diangkat menjadi  pegawai negeri dengan imbalan 16 ribu perbulan, dan kala itu di tahun ’82-an gaji yang diterima harus menunggu 2 hingga 3 bulan lamanya.

Foto keluarga Bapak Domin Ulukyanan.

Kakek dari 11 cucu yang kini memberinya kebahagiaan saat bersama mereka menghabiskan akhir pekan ini memiliki prinsip hidup.Sejak menjadi seorang guru saya memiliki ketenangan batin. Ia justru merasa nyaman dengan semua orang.

Sosok anggota DPR yang terkenal vocal ini memiliki asrama yang dikelolanya langsung, anak-anak asramanya berasal dari Distrik Kimaam.

Baginya antara pendidikan dan ekonomi sangat erat. Menjadi seorang guru jangan hanya karena mengejar gengsi dan status sebagai ASN saja, tapi harus semangat mengabdi dengan sepenuh hati.

Domin yang pernah putus kuliah ini banyak mendapat  pelajaran hidup. Menurutnya guru dulu ibarat lilin yang rela terbakar untuk memberikan terang kepada orang lain, tetapi guru sekarang seperti balon lampu, yang punya hubungan langsung ke generator, dan dinas ibarat generatornya, kalau generator padam maka padamlah bolam lampu.

Baginya sosok seorang kepala sekolah sangat penting karena harus mengemban tugas ‘EMAS’ artinya ‘E’ adalah Edukatif yaitu guru harus memberikan contoh, ‘M’ yaitu Managerial, kepala sekolah harus memilik kemampuan managerial, ‘A’ artinya Administrator, kepsek harus mampu mengurus administrasi dan ‘S’ adalah Supervisi, harus mampu menjadi pengawasan kurikulum atau memiliki daya serap.

Terkait masalah ekonomi, anak-anak usia belajar kebutuhan gizinya mutlak diberikan. Ini kembali pada upaya keluarga menyediakannya. Orangtua juga harus berdaya secara ekonomi. 

Domin Ulukyanaan sosok yang kritis melihat fenomena sosial. Ia menyadari punya keterbatasan, terkait dengan tugasnya. Sebagai Wakil Rakyat ia selalu rutin mengunjungi kampung-kampung wilayah Distrik Kimaam, rasa cinta kepada kampung yang tidak bisa hilang dan membuatnya selalu ingin kembali melihat konstituennya, “Ujar Domin mengakhiri pembicaraan.

Kontributor : Will

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.