kabarnoken.com – Yahukimo, Papua Pegunungan — Masyarakat Yahukimo kembali diliputi ketakutan setelah TPNPB-OPM Kodap XVI melontarkan ancaman terbuka kepada warga sipil, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, hingga intelektual setempat. Dalam pernyataan yang beredar, kelompok bersenjata itu mengultimatum siapa pun yang dianggap terlibat atau berhubungan dengan pendirian pos militer di kawasan Jalan Gunung, disertai ancaman kekerasan yang menggetarkan rasa aman warga.
Intimidasi yang Mengoyak Kehidupan Sosial
Ancaman tersebut tidak hanya menyasar individu, tetapi menekan ruang hidup masyarakat luas. Warga menilai sikap intimidatif itu sebagai bentuk teror yang mengoyak ketenangan kampung dan memaksa masyarakat berada di bawah bayang-bayang ketakutan. Anak muda, pelajar, mahasiswa, hingga pemuka agama ikut terdampak, sementara aktivitas sosial dan keagamaan terancam lumpuh akibat tekanan bersenjata.
Kecaman dari Berbagai Kalangan
Berbagai kalangan di Yahukimo mengecam keras tindakan tersebut dan menegaskan bahwa ancaman terhadap warga sipil merupakan pelanggaran kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan. Tokoh adat menilai intimidasi ini sebagai pengkhianatan terhadap nilai budaya Papua yang menjunjung perlindungan sesama. Tokoh agama menyerukan doa bersama dan solidaritas jemaat untuk menolak kekerasan. Sementara pemuda dan mahasiswa menegaskan bahwa masa depan Papua tidak boleh dikorbankan oleh teror bersenjata.
Seruan Negara Hadir Melindungi Warga
Masyarakat mendesak negara hadir melindungi warga, menegakkan hukum, dan memulihkan rasa aman. Aparat keamanan diminta memperkuat pengawasan di titik rawan, membuka ruang dialog, serta memastikan perlindungan terhadap tokoh lokal yang menjadi sasaran ancaman. Langkah ini dinilai penting agar Yahukimo kembali menjadi tempat aman untuk hidup, bekerja, dan beribadah.
Harapan Papua: Damai, Bukan Ultimatum Senjata
Yahukimo, tegas masyarakat, membutuhkan perdamaian dan dialog, bukan ultimatum senjata yang mengorbankan rakyat sendiri. Papua hanya bisa maju jika masyarakatnya hidup dalam rasa aman, dengan ruang publik yang bebas dari intimidasi.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak teror. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.















